Kamis, 23 Mei 2013

Gerak Aswaja, Merah-Putih dalam Realita


Ahmed Miftahul Haque

Merah putih. Itulah kesan yang kita dapat ketika Gerindra bersepakat dengan PKNU untuk bergerak bersama dalam menyongsong pemilu 2014 melalui sayap organisasi Gerakan Rakyat Ahlussunah wal Jamaah (Gerak Aswaja). Partai Gerindra dengan nuansa merah sebagaimana dicitrakan partai nasionalis, sedang PKNU dengan spirit ideologi islam yang disimbolkan putih menjadikan gabungan keduanya memberi kesan merah-putih dalam arti sebenarnya. “Ini merupakan kekuatan luar biasa,” ungkap KH. Abdul Ghofur pengasuh ponpes Sunan Drajad Lamongan.

Sejak dinyatakan tidak lolos sebagai peserta pemilu, banyak parpol mencoba melamar PKNU. Salah satunya adalah PPP. PKNU dengan basis masa Nahdlatul Ulama (NU) menjadi target rasional bagi PPP semenjak PPP mulai mendekati Nahdliyin melalui basis massa pesantrennya. "Saya meminta Nahdliyin pulang kampung ke 'rumah besar'," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Suryadharma Ali dalam suatu kesempatan. Dalam upaya inilah rombongan PPP datang menemui jajaran pengurus PKNU Jawa Timur.

Namun upaya menggandeng PKNU ini tidak berhasil dilakukan oleh PPP. Alasan utamanya adalah PPP ingin penggabungan antara PPP dan PKNU terjadi secara alami, sesuatu yang menjadi sangat absurd dalam dunia politik menurut ketua DPP PKNU Drs. Choirul Anam. “Dalam benak saya sangat sulit melaksanakan penggabungan secara alami. Tidak ada rumusnya dalam dunia politik bergabung secara alami,” ujarnya.

Di lain pihak, Gerindara sangat welcome dengan PKNU. Bahkan Gerindra menerima usulan PKNU untuk membentuk sayap Gerak Aswaja sebagai organisasi otonom yang dimotori para kiai. Ini menjadi penting karena saat ini para kiai NU sangat prihatin dengan meluasnya gerakan Salafi, Jama’ah Tabligh, Wahabi, dll., yang sangat mengganggu kehidupan keberagaman warga Nahdliyin, dan secara politis juga membahayakan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pertimbangan mendasar lain yang membuat PKNU bersepakat dengan Gerindra melalui Gerak Aswaja adalah bersih dari korupsi. “Saya melihat Gerindra dengan tokoh pembinanya Prabowo Subianto cukup mampu mendinamisasi internal Gerindra untuk tidak terlibat tindakan-tindakan melawan hukum, dan, apalagi, korupsi,” tukas Choirul Anam.

Sosok dewan penasihat Gerindra, Prabowo Subianto menjadi daya tarik tersendiri bagi Choirul Anam. Ia berpendapat bahwa kedepan Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Prabowo Subianto yang ia anggap sebagai sosok yang tegas, lugas dan hangat.

Meski PKNU tidak diloloskan sebagai peserta pemilu dan kini besepakat dengan Gerindra melalui Gerak Aswaja, namun hal ini tidak membuat PKNU melebur menjadi satu dengan Gerindra seperti halnya partai-partai lain yang tidak diloloskan menjadi peserta pemilu. “Sepakat itu saling memahami dan menyepakati, bukan meleburkan diri atau fusi,” terang Choirul Anam.

Sebuah bangunan kerja sama yang unik ditampilkan oleh Gerak Aswaja. Gerindra dengan rela hati membentuk sebuah organisasi sayap untuk memfasilitasi kader-kader PKNU, dan PKNU yang dikenal religious dengan basis massa Nahdliyin yang mengakar kuat bersedia bersepakat dengan Gerindra yang notabene adalah partai nasionalis. Sebuah jalan tengah yang saling menguntungkan.

Prabowo pada peresmian Gerak Aswaja di ponpes Sunan Drajad Lamongan dengan rendah hati mengucapkan banyak terima kasih kepada PKNU dan ketua umumnya karena telah bersedia mendukung Gerindra. Tak ada kesan berat hati ditampilkan oleh Prabowo. Bahkan para kader PKNU dipersilahkan mencalonkan diri sebagai legislator pusat maupun daerah melalui Gerindra.

Bagi Prabowo ponpes Sunan Drajad bukanlah tempat yang asing. Ia telah beberapa kali melakukan kunjungan ke ponpes tersebut. Keakraban ini tidak lepas dari kedekatan ranah kerja diantara keduanya di luar Gerindra; Prabowo sebagai ketua umum HKTI dan kiai Ghofur sebagai ketua Perhimpunan Ponpes Agrobis se-Indonesia.

Kiai yang juga Dewan Penasihat Partai Gerindra ini mengatakan bahwa penggabungan itu dianalogikan sebagai menyatunya Merah dan Putih. Gerinda sebagai perasan dari semangat ideologi Nasionalisme yang disimbolkan merah dan PKNU adalah perasan dari semangat ideologi Islam yang disimbolkan putih. “Gabungan keduanya menyatukan Merah Putih,” ungkap beliau. (dmz/rol)

Harlah PPP di Bangkalan

Ahmed Miftahul Haque

Ada yang berbeda dalam peringatan hari lahir (Harlah) PPP ke-40 tahun ini. Tidak seperti peringatan harlah PPP tahun sebelumnya yang dipusatkan di senayan, rangkaian harlah tahun ini dipusatkan di Jawa Timur yang merupakan mayoritas NU dengan basis pesantrennya, dimana massa NU sendiri telah diklaim oleh PKB dan PKNU (baca: Gerindra. Pen). Pemilihan kompleks makam Syechona Kholil di Bangkalan Madura sebagai lokasi puncak acara seolah membenarkan kabar yang beredar saat ini bahwa PPP sedang mendekati basis massa pesantren.

Lumrah diketahui bahwa Syechona Kholil merupakan guru dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Pada awal-awal tahun 1924, KH. A. Wahab Hasbulloh meminta izin kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan NU. Istikhoroh KH. Hasyim Asy’ari belum memberi sinyal positif untuk menindaklanjutinya. Ternyata sinyal positif ini tidak langsung diterima oleh Kiai Hasyim, namun diterima oleh guru beliau, Syechona Kholil. Beliau lalu mengirim murid terpercayanya KH. R. As’ad Syamsul Arifin untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari bahkan hingga dua kali hingga terbentuknya NU pada 31 Januari 1926. Pada titik ini, Syechona Kholil memiliki legitimasinya sebagai pendiri NU.

PPP adalah partai yang terbentuk pada 5 Januari 1973. Partai yang merupakan hasil kebijakan pemerintah ini didirikan oleh empat partai Islam peserta pemilu 1971; NU, Pamusi, PSII dan Perti. Karena PPP merupakan gabungan empat parpol, maka pembagian kursi dewan dan pimpinan PPP didasarkan pada perolehan suara pada pemilu 1971 yang tertuang dalam Konsensus Munas 1975. Namun pada perkembangannya, NU merasa didzolimi oleh PPP dan memutuskan untuk keluar dari partai tersebut.

PPP selama ini mencitrakan dirinya sebagai partai Islam yang menaungi semuanya, bahkan selain yang berhaluan Ahlussunna wal Jama’ah. Tidak mengherankan ketika pada awal masa reformasi, NU mendirikan PKB sebagai jalur aspirasinya. Alih-alih kembali ke PPP ketika terjadi chaos dalam tubuh PKB, kiai-kiai NU malah mendirikan PKNU sebagai aspirasi politiknya. Namun setelah hasil kurang memuaskan yang diterima PKNU dalam pemilu 2009, dengan menimbang kemaslahatan umat yang tidak mungkin bisa diperjuangkan tanpa melalui perjuangan politik, kiai-kiai ini mulai memikirkan partai lain sebagai jalur aspirasinya.

PPP membaca celah ini dan kemudian ditinjak lanjuti dengan melakukan pendekatan pada kiai-kiai NU, baik personal maupun institusional. Hal ini dapat kita cermati pada muktamar PPP 2011 lalu ketika tersebar berita pencalonan Hasyim Muzadi sebagai calon ketua umum PPP, meski kemudian ditolak secara halus oleh Hasyim Muzadi, dan mencapai puncaknya pada momen Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang digelar di Lirboyo dan harlah PPP ke-40 di kompleks makam Syechona Kholil Bangkalan. Pagelaran ini kuat mengesankan bahwa PPP ingin diakui sebagai partai yang berbasis pesantren dan siap mengemban amanah para ulama, utamanya yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dari kesediaan Lirboyo sebagai tuan rumah Mukernas dan kemeriahan rangkaian Harlah PPP ke-40, dapat disimpulkan bahwa NU sangat welcome dengan PPP. Dan faktanya, banyak kiai NU yang kemudian menjadi pegurus harian (Majelis Syariah) yang berfungsi sebagai penentu kebijakan tertinggi haluan partai.

Menilik asal terbentuknya PPP beserta afiliasi partainya, meski sedari awal terdapat beberapa kiai NU dengan basis massa pesantrennya yang tetap membela PPP pasca NU memutuskan keluar dari PPP, namun tidak menutup kemungkinan akan munculnya konflik dalam internal PPP ketika basis massa baru masuk dan mendapat tempat dalam jajaran petinggi PPP. Memang diperlukan studi lebih lanjut dan kecermatan membaca perkembangan politik saat ini untuk menjawab kemungkinan itu, tapi apapun itu, salah satu yang membidani kelahiran PPP adalah NU. Dan kemudian menjadi sesuatu yang wajar ketika PPP kembali ke pangkuan NU. Selamat Ulang tahun PPP, dan selamat datang kembali! (Dari berbagai sumber)

Kamis, 07 April 2011

The Portrait of My Mother

Bcoz of heart filled with love
And life surrounded orb
I wake this gloomy light
On face in a wrinkle sad

Eyes closed grasp the tears
Affection burned inside reveals
Bcoz she knows how’s to be alone
And hope behind the day

Rabu, 06 April 2011

To become a boy with a girl


No one ever sees the hundred years sink ship without descend in

coincidence well equipped lack lips from water
within relevant to let sincerity lead the manner.

For upper case, put the unsurpassed beam adhere every wrinkle
on your cheek that touches doors of heaven.
“Open Sesame!” they say, so it’s time for words to play
escorts the aim here taking a form which
she can hear and you be known.

Angel demon stand still waiting presume you’ll sit
in their yard and let you come in.
Alas, to become a boy with a girl is not your own privilege.
Put its Wright then you are noted as the right.
Place its down in that case your book comes from behind.

Don’t you know if there’s couple afterwards comes the third?
that in time's fullness the diamonds couldn't be distinguished
from the genuine in brilliance or hardness.
In end it would tell.

Sabtu, 13 November 2010

Menu spesial negeri ini

daharan berbaris rapi
menunjuk tangan meminta lahan
pada lahap cacing hingga desir tanpa wadak
 lahar sesejuk seribu pagi atau sepanas matari
 iyam yang menghantam
 hingga syahwu
adakah lagi

tarikan hati bersenandung intim
pelan syahdu mengambang
; melintrik dilintrik
pagi siang sore malam hingga diulang
melenakan memanjangkan lahan pekuburan

berbekal sejumput tenang, sabar
perhatian menunggu giliran
untuk ajal


November 2010

Sabtu, 06 November 2010

10th of November

; appreciate and recognise what history can tell

There is a great aphorism says,” A great nation is a nation which is able to appreciate their heroes, their elders, their founding fathers.” It’s been an irony when our younger generation doesn’t know our historical moment, such as the 10th of November or we’ve known as the heroic day. Logically, we won’t be able to put some feeling; caring or even loving something when we don’t know about it, moreover appreciate it. Our younger generation won’t be able to value the great moment of 10th November when their environment or even their elder never establish, introduce about it.

There are at least two reasons why 10th of November memorized. The first is the war in Surabaya at 10th of November 1945 is the first and the longest war against England and their alliance, and the second is arek-arek Suroboyo are able to kill an England general. It’s something which couldn’t be achieved by other countries at their war history. The fact is, there’s no general die in vain in a terrible ambush such as in Surabaya.


When I uttered arek-arek Suroboyo, what I meant were all people who domiciled in Surabaya. I didn’t talk about their originated. Because war in Surabaya weren’t dominate by Surabayan people. There were maduranese, sumatranese, ambonese, etc. 


Indonesia got his independence in 17 august 1945. A month later, 15 September 1945 for exact, England arrived in Jakarta. They said they came with peace so we buy it, we believe it. No conflict, no disagreement, no war, none, nothing was happened. In October 6th, England arrived at Medan. The cases were the same. No conflict, no disagreement, no war, none, nothing was happened. In October 20th, England arrived in Semarang. The cases were the same. No conflict, no disagreement, no war, none, nothing was happened. But what happened in Surabaya was different. England arrived at October 25th. And three days later, in a small ambush with a few men and minimum weapon, the extremist, term which England used to call Surabaya’s rebel, killed Mallaby, an England general. Actually the extremis didn’t know who they were attacking. It’s just a random ambush. They were just seeing cars, many cars, passing the red bridge, Jembatan Merah, and decided to attack those cars, and bam. Mallaby was killed.


England was so furious. England decided to choose general Meinzert to replace Mallaby. Meinzert ordered Surabaya extremist to hand over their weapons max in November 10th six am. If until the time Surabaya extremist didn’t hand over their weapons, Surabaya would be fully attacked by England from the sky, sea and ground. And Surabaya extremist didn’t obey it. And then Surabaya was fully attacked by England and his alliance. 


Before the war was happened. There was a story in internal Nahdlatul Ulama, Nu. It was said, all NU people were waiting the instruction, or we called it fatwa, from K.H. Hasyim Asy’ari, NU founding father. K.H. Hasyim Asy’ari was said, all people who lived less than 96 km from Surabaya are a must to follow the war and people who lived more than 96 km are a must in helping people who joining the war. Some people said that is also the history of bonek. Bonek hometowns aren’t more than 96 km from Surabaya.


England said Surabaya will fall in three days. But the fact was, Surabaya fell in a month. Yes, it’s true. We were lost, but we were lost with pride, with dignity. More than 15 thousand people were died in Surabaya’s war. We must know it. We must remember it, more than that we must be able to appreciate it, because, a great nation is a nation who able to appreciate their heroes, their founding father.


A the end, I will quote a wise expression, “Subbanul yaum Rijalul Ghod”. The younger generation are the one who write the future history of our nation. Aisy kariman aw mut Syahidan, write it well or just die before you make it worst.





Rabu, 11 Agustus 2010


Hikayat Daun

daun mulai tak kerasan di ujung ranting
bergoyang lalu berucap salam
melambai sejenak lalu mampir
di beranda sungai; mengiba akan akhir yang indah

namun air terlalu bijaksana untuk menolong,
ia tambatkan daun di sisi limbah plastik manusia
bergelantungan dari ujung fajar hingga akhir senja

mangatung-ngatung melambai
berlantun tengadah dengan cerca tak berwajah
sayup-sayup senyap
tiap serat hingga lenyap

langit menangis akan akhir daun yang tak manis
melabrak awan akan adil Tuhan
dalam senyum tipis awan
berujar, puji nikmat adalah emas

                                                                                                                          2010-08-11

Kamis, 05 Agustus 2010













Obituari Senja

sebatang lidi micromili menelusup di nadi hati
melambai diiring nafas lelah
; akan dunia dan ranum khuldi

menampil potret sunyi
; sepi warna sepi rasa
menusuk kecil-kecil
tak terasa hingga musnah

hantu diri berulah seijin raga
; tanpa sengal dan peluh
tenang undur diri
                                                      
                                                 2010-08-04
Aku sedang tak ingin bicara

aku sedang tak ingin berkatakata
layaknya padi mengkaji hari

aku sedang tak ingin berkatakata
setenang air bertempat mengalir sahaja

aku sedang tak ingin berkatakata
karena sunyi adalah puncak derita.
                                         2010-08-04


Hari di bekap lelaki tua

 

angin melambai malas di hari resah,

akan dapur yang kian tumpul dan

periuk yang kian kurus

 

cahaya menjulang di luar batas

dekap tangan merangkul

lepuh kerut mengikir di tiap sisi

 

lelap tidur adalah lepas khilaf

tanpa buhur karena kata serupa jilat api di lidah

;membakar setiap jujur

memupuk kelam dari dan di diri

 

tak ada mata mampu menetes

wajah terlalu penuh dengan cemoreng

nasib sepi ingin, diberangus

 

swasangka putih tidak hadir hari ini.

                                                                        2010-08-05

Minggu, 01 Agustus 2010

The Importance of Education


Our prophet Muhammad S.A.W has said,”Tholabul ilmi faridzotun ala kulli muslimin wal muslimat.” Education is a must for every person, male or female. This doesn’t mean to learn all branch of science but it is meant to seek ilmul hal; science which represents us, represents our obligations as Muslims and Indonesian people. Let’s take an example. As Muslims, our obligations are doing five times pray; shubuh, dzuhur, asher, maghrib and isya’. To do this, we have to know what is must, mustn't, should, shouldn't in our pray. To be a great person in linguist, we have to learn phonology, semantics, morphology, syntax and many more. To be a Doctor we have to be expert in taxonomy, virology, microbiology, and many more. Knowing what to do to perform our obligation properly is also our obligation. Ma yutawasolu bihi ila iqomatil wajib fahual wajib.

Besides ilmul hal, we also need to learn ilmu ahwalil qulub; science which concerns with our mentality inside, between us, ourselves, and Allah S.W.T. Such as; be patient in facing Allah line of destiny and also always has a good prejudice at Allah.

The last but not least is ilmul ahlaq; science which concerns with our mentality among humans. Foe example; be friendly, have some respect for others, sincere and lots more. 
These three science should be combined and perform a unity in shape. These are the three main points of education.

We cannot deny that the quality of our education is still poor. It is a fact that our education achievement is at the bottom within South-East Asia countries, even we are left behind our neighbours. There are many problems in our education system. Let me give some examples: many teachers are poorly trained both in their subject matters and in teaching skills, our teachers’ salaries are low, our education fee is still expensive, and also other crucial problems related with the curriculum, national exam (UN), and teacher certification.


Our education policy merely is touching the outside layer. It’s only focused on ilmul hal with a small part for ilmul ahwalil qulub and lmul ahlaq. As a proof, the public school only gives an hour in one week for ”Agama” Class. Our education system only educates Indonesian people from outside not inside. The results are, corruption everywhere; Gayus Tambunan, Anggodo Widjojo, Artalita Suryani, the doctor only serves the rich and abandon the poor, the teachers are too busy with their certifications and dispose their students, and lots of other cases which indicates our awful mentality.

To build Indonesian people we need the three education aspects; ilmul hal to equipt our society with skill and ability to chase our behind, ilmul ahwalil qulub to teach us not to be pessimistic in facing life and Allah’s faith, and ilmul ahlaq to teach how to behave as a civilise people.

To end this, I'll quote a wise expression:“Ta’allam! Fainnal ilma zainun liahlihi. Wa fadzlun wa unwanun likullil mahamidi. Wa kun mustafidan kulla yaumin ziyadatan minal ilmi. Wasbah fi buhuril fawa’idi”. Science is a precious treasure for their owner. Science is also an assist and glory for every greatness been created. Make sure your each day worth by adding knowledge and sink in the sea of wonder, because learning, studying, gaining knowledge is a never ending duty, since we’ve been able to cry until we die.



Note: It is addapted from Ta'limul Muta'allim by Syeikh Zarnuji

Jumat, 23 Juli 2010

Nyai Muthollib


Malam yang berangin, hantaran khas pindah musim. Kabut libur menjauh tak mampu menghalangi indahnya bulan penuh.


Di depan salah satu komplek, duduk berjajar belasan anak setingkat SMP atau SD akhir melantunkan syair-syair arab. Sesosok pemuda mengawasi dengan teliti. Bukan kegagahan atau wibawa yang terpancar dari sosoknya. Tapi badut kurus yang tak sempat kehilangan keceriaan. Menebar tawa di tiap napas. Anak-anak semakin bersemangat dalam berlantun. Dengan gaya 'angon' bebek, pemuda itu laksana Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Suroboyo. Allohu akbar! Cepat selesai cepat pulang!


Sepuas bersyair mereka duduk dalam kelompok tiga empat anak. Mereka membaca abjad arab, membenahi makna jawa di tiap kata dan saling mengoreksi. Mereka mentransliterasi ke dalam bahasa Indonesia dan membicarakan maksud yang tepat. Badut kurus itupun memperhatikan. Tiap kelompok demi kelompok. Dengan sedikit membungkuk dan meletakkan tangan kiri ke belakang, ia laksana semar 'dawuh'. Atau menjadi Wisnu yang turun ke bumi. Menjaga tiap sendi dunia berjalan dalam harmoni.


Setelah puas berdiskusi mereka kembali menjadi kelompok besar. Duduk berjajar acak-acakkan memandang ke satu arah, ke arah badut kurus. Sang pemuda mulai menjelaskan secara panjang lebar hingga dari tiap kata dari abjad arab yang baru mereka pelajari. Ia serasa berjalan di awang-awang. Tanpa koreksi dan interupsi. Sesekali gelak tawa anak-anak tak tertahankan menikmati tontonan gratis dari sang pemuda. Dari depan tiap detail wajahnya terlihat jelas. Hidung mancung dengan bibir yang ikut mengimbangi. Sorot mata lugu penanda tak ada pengetahuan lebih didalamnya. Semua unsur itu bersatu padu membentuk siluet mesin tawa.


Setelah tuntas dengan pertunjukkannya, Sang semar pun berkata diselingi dengan senyum mewahnya, "ada pertanyaan atau permasalahan yang belum dipaham?". Sunyi sebentar, lalu...
"Tanya pak. Nama ibunya kanjeng nabi apa pak?" seorang anak yang duduk di depan dengan lugunya bertanya.
"Aminah," dengan diwibawa-wibawakan sang pemuda menjawab.
"Kalau Ayahnya pak?" tanya si anak lagi.
"Abdulloh," tak ada perubahan ekspresi dari sang pemuda.
"Kalau kakeknya pak?" cecar si anak
"Abdul Muthollib" jawab pemuda dengan ekspresi yang sama.
Tiba-tiba dari baris belakang terdengar suara bertanya,"kalau neneknya pak?"
Sempat sekejap tersirat kegalauan. Namun sepermili detik kemudian ia terlihat mampu menguasai keadaan dan menjawab,"ya Nyai Mutholib."
Suasana tiba-tiba sunyi senyap. Anak-anak tertegun seakan berusaha mencerna kebenaran yang baru tersampaikan.
Tak seberapa lama, sang pemudapun pamit undur diri.


Note:
Bangsa Arab menganut sistem kekerabatan Patrilineal. Dalam literatur arab, kita akan lebih mudah menemukan garis keturunan melalui pihak ayah dari pada garis keturunan melalui pihak ibu.

Selasa, 20 Juli 2010


PUT UP WITH PLUNDERER

I have cookies; my mom bought me this morning
Eat five three left
I wait till sunset to joy their last
It’s a beautiful day to pass outside
Therefore, I go to play to feel the day
The sun goes around then decides to hide
Remembering my cookies, I feel excite so I go inside
Enjoying my lovely cookies, at least I’ve tried

There are soldiers everywhere, surrounding my precious treasure
The worker ants lift my cookies like a villain: very cruel and unpleasant
Some look blue some look yellow, in the crumb of my precious, seems the colors of the rainbow
An ant is yelling. Tell everybody to be fair, each ant one pair. “Don’t be greedy every one!” said the ant
But that is my cookies snatch away
Stand just on a brittle land
“Share for friends, neighbours even your foes if you want. Be generous for your purposes.”
Are you okay? It’s mine anyway!
They keep walking and the ant still announcing
Don’t mind whether I am watching
Stupefied and none to say, it’s just ants step away

My heart starts to rumble, harder than famous rock star drummer
Tongue feels bitter
Eventually, my eyes come to cry
I do love cookies and also my mom
Clearly I hate ants

Silence Tear
For situ gintung


Inside a peace night
People were sleeping tight
Dreams put his right
It came


Without sound and less warn
It took our warm
Why you passed
Just to take life


It wasn’t disaster
It was just our indifferent
Careless and didn’t care others


It happens again and again
What’s wrong with this nation
Lots of tear and sadness sudden
Made us week and beg pity from foreign


Asking why no answer reply
Was there hope
Or cloud still showed

Senin, 19 Juli 2010

IMPEACHMENT GUS DUR; Memoir Santri


Masa itu adalah masa terakhir bersatunya NU dibawah satu suara, sekiranya itulah yang dapat penulis ingat. Penulis masih setahun nyantri di Alfalah Ploso Mojo Kediri ketika KH. Abdurrahman Wahid di Impeach dari kursi kepresidenan. Suasana saat itu genting; genting versi pesantren adalah tawa yang tersendat-sendat. Di Ploso waktu itu terjadi sesuatu yang tidak lazim. Kami santri biasa bisa memonitor perkembangan detik-detik terakhir apa yang terjadi di Jakarta, entah lewat TV atau cerita dari pejabat-pejabat kantor Pesantren pada waktu itu-bandingkan dengan berita WTC yang kami baru mendengarnya lima hari pasca bencana (Ploso adalah Pesantren salaf yang memiliki aturan melarang para santri membaca koran karena dikhawatirkan akan “menganggu” aktifitas belajar). Santri resah apa yang mesti mereka perbuat saat kyai nya dilecehkan. Mereka gelisah karena jauhnya jarak dan tibakah mereka tepat waktu. Mereka menunggu keputusan kyai mereka; Apakah berangkat seluruhnya? Apakah hanya santri-santri pilihan? Atau cukup dengan kirim do’a saja?.


Banyak hal yang harus dipertimbangkan para kyai pada hari itu. Isu Bughot (pemberontakan) yang dialamatkan pada Amin Rais, stabilitas bangsa dan negara, dan banyak lagi yang kami para santri kurang paham. Para kyai membuat itung-itungan sendiri, kami pun juga. Penulis waktu itu mulai menghitung berapa kekuatan Ploso, Lirboyo, dan Pesantren-pesantren besar lainnya. Di otak penulis terbersit itung-itungan untung rugi dan menang-menangan ala anak muda. Ploso pada waktu itu memiliki santri kira-kira 4 sampai 5 ribuan. Kalau Ploso 5 ribu Lirboyo antara 10 sampai 15 ribu dan pondok-pondok besar dan kecil lainnya, jumlah santri dari jatim saja bisa mencapai angka 50 ribu mungkin lebih (perlu dicatat bahwa era Presiden Gus Dur adalah era membeludaknya jumlah santri di Pesantren manapun). Dari jumlah itu kira-kira 10 % nya adalah santri dengan kemampuan khusus. Penulis membayangkan di Jakarta nanti kami berhadapan dengan tentara,katakanlah, 20 ribu petugas keamanan dan mungkin lebih. Dengan bantuan santri Jateng, Jabar, dan mungkin alumni-alumni tentunya kami akan dengan sangat mudah menaklukkan mereka-ini adalah imajinasi belaka.


Darah muda mulai merangkak naik keatas ubun-ubun kami para santri kala itu. Mungkin kita semua lebih mudah membayangkan apa yang bisa dilakukan oleh golongan Islam garis keras yang mengobrak-ngabrik tempat prostitusi, hiburan malam dan lain sebagainya-karena menggerakkan lelaki dengan janji surga dan taruhan agama lebih mudah daripada uang. Tapi bagamana jika yang diberangkatkan ke medan tersebut para santri dengan kyai-kyai yang satu suara. Takkan terbayangkan betapa "mandi"nya ucapan para kyai kala hal seperti itu terjadi. Dengan tanpa bekal disiplin ala militer atau iming-iming uang dan nasi bungkus ala parlemen jalanan yang sewaan (penulis beri penjelasan demikian agar tidak terjadi salah paham dengan parlemen jalanan yang beneran), tapi hanya berbekal dawuh kyai, para santri akan memenuhi setiap sudut jakarta (mungkin karena itulah para kyai selalu terpecahbelah atau memang harus di pecah belah). Penulis yakin Tentara Nasional Indonesia akan bimbang menghadapi kaum bersarung dalam jumlah besar.


Tapi apa yang kami bayangkan, bahkan mungkin diharapkan oleh sebagian santri yang kurang berkepala dingin, tidak terjadi. Pertunjukkan kesatuan suara dalam dunia perkyaian dalam menggerakkan santri tidak akan kita saksikan lagi pasca perang kemerdekaan, atau mungkin G 30 S/PKI. Kami para santri hanya diwajibkan berkumpul di masjid untuk mujahadah dan berdo’a bagi keselamatan bangsa dan negara pada umumnya dan Gus dur pada khususnya. Bukan hanya Ploso yang melakukan hal ini, tapi semua pesantren di seluruh Indonesia. Kami berpikir bahwa para kyai "ngeman" kami para santri dan lebih mementingkan stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Pasca kejadian itu, di suatu sore di hari kamis penulis pulang kerumah untuk mengambil bekal. Ada banyak hal yang ingin penulis dengar saat tiba di rumah. Ternyata benar sangkaan hati. Banyak cerita yang beredar perihal hari di lengserkannya Gus Dur pada waktu itu. Mulai tingkah para orang sakti yang ingin membunuh ketua MPR-salah satunya konon memiliki kemampuan untuk membunuh musuhnya dalam jarak tak terhingga dengan hanya memanggil namanya, seketika orang tersebut menjawab panggilan seketika itu pula ia akan meninggal-meskipun hal ini tidak sampai dilakukan “hanya” karena larangan Kyainya, sampai kisah kekecewaan Nahdliyin Jatim yang diarahkan pada PWNU Jabar karena terkesan “membiarkan” hal tersebut terjadi, sampai sekarangpun penulis masih belum memahami apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan kala itu. Wallohu A’lam bis showab.

Sugeng Rawuh Poro Derek






Selamat datang di The Ahmed Mind. It's an honor to welcome you hereSebuah karunia yang tak terduga ketika pada suatu malam penulis diingatkan akan cita-cita untuk membuat blog. Cita-cita yang mungkin saat ini jauh dari kesan mulia. Karena kemuliaan di dunia manusia dinilai dari sebuah akhir, bukan sebuah awal atau tengah proses. Dan cita-cita itu semakin tertatih ketika langkah terantuk di pilihan nama. The Javanese said, a name is a pray. Mungkin penulis menganggap ini terlalu serius layaknya seorang ayah yang menanti bayi pertamanya terlahir di dunia yang menginginkan segalanya tampak sempurna. Nama, nama dan nama. Memang inspirasi itu terkadang seperti perut kembung, jika belum saatnya tak ada cerita kentut akan keluar. 


Dan masa itu akhirnya tiba. Sebuah sms dari seorang gadis yang mengaku memiliki bibir sexy, perpaduan antara Angelina Jolie dan Marshanda, mengusulkan 'THEMINDOFMIFTAH'. Sekilas pandang nama ini seperti perpaduan antara bakul mie dan tukang kunci (Miftah means 'a key, a reveal-pen), yang ternyata kalau dipisah terbaca the mind of miftah. Setelah melalu pertimbangan 'serius', atau semacamnya, penulis putuskan untuk memberi nama The Ahmed Mind, lebih karena alasan enak didengar dan berkesan mewah.


Dalam jagat kepenyairan konon dikatakan bahwa para penyair ketika menulis puisi mendahulukan isi dari judul. Hal ini umumnya disebabkan karena para penyair sulit menentukan kemana ilham mereka mengarah. Sedang penulis lebih memilih adat jawa yang menganggap nama itu sebagai do'a sehingga berkesan bersibuk-sibuk diawal dengan menggantungkan jutaan harap pada sebuah nama. Namun sayangnya langkah ini berimbas pada kebingungan diakhir. Ekspektasi yang ditanamkan dalam nama ini terlalu besar, yang lalu membuat penulis bingung mau diapakan. Sebut saja frase The Ahmed Mind yang tersusun dalam bahasa Inggris, terbersit pertanyaan di otak, haruskah Blog ini berisi tulisan berbahasa Inggris? Cukup lama penulis terhuyung di persimpangan sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke asal, makna dari The Ahmed Mind. So, this is it. I can write it in Javanese, in English, in Indonesian or perhaps in Arabic, it's all up to me, to my mind. Dan seperti alasan bahasa penulisan di atas, apakah nanti Blog ini berisi puisi, prosa, artikel orang lain yang penulis comot it's not against our agreement, if there's any.


Akhiron, tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Penulis hanya bisa berucap selamat menikmati apa yang tersaji. Semoga langkah ini berbuah kebaikan in life and after life. Kritik dan saran selalu kami nanti, karena kebenaran hanya berada di sisi Tuhan.